Apa yang melatarbelakangi Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Banyumas mengembangkan layanan digital SIBINTANGLIMA?
SI BINTANG LIMA lahir dari Proyek Perubahan Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II yang digagas Bapak Agus Anggraito, yang saat itu menjabat Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Banyumas. Dari analisis isu strategis beliau, masalah utamanya adalah layanan perpustakaan di Banyumas yang “kurang optimal” — masih terbatas pada jam operasional dan gedung, sementara kebutuhan masyarakat akan informasi digital terus meningkat.
Di sisi lain, sumber pengetahuan daerah seperti karya ilmiah kampus, inovasi ASN, naskah kuno, dan koleksi lokal tersebar di banyak institusi tanpa satu pintu akses; pemanfaatan teknologi belum maksimal; dan kolaborasi antar-pemangku kepentingan belum terbangun secara sistematis. Dari situlah lahir strategi penguatan literasi yang diwujudkan melalui platform digital “Perpustakaane Inyong Bintang Lima”.
Apa saja layanan dan fitur yang tersedia dalam SIBINTANGLIMA, serta siapa saja sasaran utama penggunanya?
Platformnya bernama “Perpustakaane Inyong Bintang Lima” — portal web (tanpa perlu instal aplikasi) di alamat sibintanglima.banyumaskab.go.id. Per Oktober 2026 tersedia 268 koleksi digital dalam 13 kategori: buku digital, karya ilmiah, karya ASN/PROPER, inovasi OPD, naskah kuno, koleksi lokal Banyumas, keagamaan, kesehatan, life skill (keterampilan hidup), literasi kepramukaan (Saka Pustaka), dan audiobook, ditambah tautan referensi budaya Jawa (Sibaja Senarai) dan Koleksi Arsip Nasional.
Sasaran utama penggunanya: masyarakat umum, pelajar, mahasiswa, ASN, akademisi/peneliti, guru dan tenaga pendidik, komunitas literasi, penyandang disabilitas melalui layanan audiobook, hingga masyarakat di luar Kabupaten Banyumas.
Bagaimana cara masyarakat mengakses dan menggunakan SIBINTANGLIMA untuk memperoleh informasi atau bahan bacaan?
Sangat mudah. Masyarakat cukup membuka peramban (browser) di HP atau laptop, mengetikkan alamat sibintanglima.banyumaskab.go.id, lalu mengisi informasi singkat berupa kelompok usia, pekerjaan, dan asal wilayah — data ini dipakai untuk memetakan karakteristik pengguna sebagai dasar pengembangan layanan. Setelah itu, seluruh koleksi digital dapat langsung dibaca atau diunduh, gratis, tanpa kartu anggota, tanpa antre, dan tanpa instalasi aplikasi.
Apa manfaat yang dirasakan masyarakat dan pihak perpustakaan sejak adanya SIBINTANGLIMA?
Bagi masyarakat, bahan bacaan yang dulu tersebar di banyak tempat kini terintegrasi dalam satu pintu dan dapat diakses kapan saja dari mana saja; penyandang disabilitas terbantu oleh layanan audiobook; karya ilmiah dan pengetahuan lokal Banyumas menjadi mudah dijangkau.
Bagi pihak perpustakaan/dinas, terintegrasinya 268 koleksi dalam satu portal, tersedianya data karakteristik pengguna sebagai dasar penyusunan kebijakan, serta kolaborasi yang melembaga melalui 14 perjanjian kerja sama dengan perguruan tinggi, OPD, dan komunitas. Dampak pemanfaatannya nyata: dari 60 pengguna layanan digital sebelumnya (iPusda) menjadi 751 pengunjung dalam tiga bulan pertama (Agustus–Oktober 2025), dengan tren yang terus naik.
Apa saja kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan SIBINTANGLIMA, baik dari sisi teknologi, pengelola, maupun kemampuan masyarakat?
Dari sisi teknologi: pemerataan konektivitas dan kepemilikan perangkat di sebagian wilayah; integrasi data dengan mitra perguruan tinggi masih perlu diverifikasi; pengisian beberapa kategori koleksi masih berjalan. Dari sisi pengelola: landasan regulasi penguat berupa draf Peraturan Bupati dan SK Bupati tentang tim pelaksana masih dalam proses; dan — yang terungkap dari data 2026 — 32,1% profil pengguna masih berstatus “not set” sehingga evaluasi berbasis data belum bisa maksimal. Dari sisi kemampuan masyarakat: kemampuan digital yang beragam — kami sikapi dengan modul literasi, video tutorial, leaflet, jingle, dan bimbingan literasi digital.
Bagaimana respons dan tingkat pemanfaatan SIBINTANGLIMA oleh masyarakat Kabupaten Banyumas? Apakah sudah banyak masyarakat yang menggunakannya?
Responsnya baik dan terus tumbuh: 122 pengunjung (Agustus), 177 (September), dan 452 (Oktober 2025). Pada tahun berjalan 2026, total pengunjung tercatat 3.623 — dengan profil yang menarik: 44% berusia 11–18 tahun (pelajar sebagai pengguna terbesar), perempuan 39%, dan 64,3% warga Banyumas. Launching-nya dirangkaikan dengan Festival Literasi Banyumas 2025, dihadiri Bupati, dan diliput lebih dari 18 media.
Secara jujur, 32,1% data gender/domisili masih berstatus “not set” — perbaikan kualitas data ini menjadi PR kami agar evaluasi makin akurat.
Sejauh mana SIBINTANGLIMA membantu meningkatkan kemudahan akses informasi dan efektivitas pelayanan perpustakaan dibandingkan dengan pelayanan secara langsung?
Layanan digital memperluas jangkauan secara signifikan: dapat diakses 24 jam tanpa batas lokasi, tanpa kartu anggota, dengan ratusan koleksi dalam satu pintu — padahal sebelumnya layanan terkendala jam operasional dan jarak ke gedung perpustakaan.
Namun layanan digital tidak menggantikan layanan langsung; perpustakaan fisik tetap memiliki nilai tersendiri seperti ruang baca, interaksi, dan pendampingan petugas. Keduanya saling melengkapi: masyarakat yang tidak bisa datang ke perpustakaan tetap terlayani melalui platform digital.
Apa upaya yang dilakukan Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Banyumas untuk meningkatkan kualitas dan pemanfaatan SIBINTANGLIMA ke depannya?
Selain agenda formal seperti penetapan Perbup, penguatan komunitas literasi digital, dan kajian akademik, kami menyiapkan langkah yang lebih konkret — berbasis data pengguna 2026:
1. Tugu baca / titik baca ber-QR secara masif. Kami akan menempatkan tugu baca/titik baca di banyak titik strategis — desa/kelurahan, sekolah, fasilitas publik — yang masing-masing memuat QR code mengarah ke perpustakaan digital. Titik fisik menjadi pintu masuk layanan digital: masyarakat yang melintas bisa langsung memindai dan membaca.
2. Memperbanyak koleksi sesuai kebutuhan masyarakat Banyumas. Penambahan koleksi tidak asal banyak: kebutuhan bahan bacaan masyarakat Banyumas menjadi kompasnya — dipetakan lewat menu Saran-Masukan di platform — dengan tetap memperhatikan aspek hak cipta melalui kerja sama dengan penerbit.
3. Sekolah sebagai kanal utama. 44% pengguna berusia 11–18 tahun: pelajar adalah pengguna terbesar. Kerja sama dengan sekolah diperdalam (Dinas Pendidikan dan Cabdin Wilayah X sudah menjadi mitra PKS) — lewat jam literasi digital dan konten yang relevan dengan kebutuhan belajar.
4. Kerja sama lintas sektor. Jejaring hexahelix diperluas — perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, media — agar pasokan konten dan jangkauan sosialisasi tumbuh bersama, tanpa mengesampingkan kebutuhan bahan bacaan masyarakat Banyumas.
5. Peningkatan kecepatan server & koleksi video. Kenyamanan akses dijaga lewat peningkatan kecepatan dan kapasitas server seiring bertambahnya pengunjung; sekaligus kami mengembangkan jenis koleksi video — format yang lebih menarik, terutama bagi pelajar sebagai pengguna terbesar platform.
Menurut Bapak/Ibu, apa hal paling penting yang perlu ditingkatkan agar SIBINTANGLIMA semakin bermanfaat dan mudah diakses oleh masyarakat?
Menurut kami, yang paling penting adalah penyediaan konten atau bahan bacaan yang lebih beragam — karena koleksi adalah jantungnya layanan perpustakaan digital. Tantangannya, penambahan konten berkaitan langsung dengan hak cipta, sehingga kami sedang mencari solusi kerja sama dengan penerbit agar penambahan koleksi berjalan legal dan berkelanjutan.
Kabar baiknya, platform kami sudah memiliki menu Saran-Masukan, jadi kebutuhan konten masyarakat bisa kami petakan langsung dari suara pengguna — peningkatan konten berjalan seiring dengan apa yang benar-benar diminta masyarakat.